Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2012

Manusia yg berKetuhanan

Ruh yang memikul Amanat itu adalah ruh istimewa manusia (ar-ruhul khassah lil insaan). Yang kami maksudkan dengan amanat adalah penguasaan terhadap janji taklif dalam bentuk keterbukaan terhadap kemungkinan memperoleh pahala dan siksa dengan kepatuhan dan kedurhakaan. Ruh ini tidak pernah mati dan tidak pula binasa, malah justru kekal setelah mati; baik itu dalam kesenangan dan kebahagiaan ataupun dalam Jahannam dan kesengsaraan. Itulah ruh tempat ma’rifat. Pada dasarnya tanah tidak memakan tempatnya iman dan ma’rifat, seperti yang dibeberkan oleh hadis dan disaksikan oleh kesaksian-kesaksian kontemplasi. Ajaran agama melarang meneliti sifat dan karakteristik ruh tersebut, sebab yang bisa menjangkaunya hanyalah orang-orang yang mendalam ilmunya (arrasyikhuna fil-ilmi).

Simbolisme Sufi

Cahaya dalam diri menciptakan Sufi, bukan kebiasaan agama. Sa'duddin Mahmud Syabistari dilahirkan di Syabistar, dekat Tabriz, sekitar tahun 1250 M. Dia menulis Gulshan-i-Raz,

atau Kebun Mawar Rahasia, sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang doktor Sufi dari Herat bernama Dmir Syad Hosaini. Sangat sedikit kisah tentang kehidupan Mahmud Syabistari.

Dia menulis dua risalah lain tentang Sufisme di samping Gulshan-i-Raz yakni Haqqul Yaqin dan Risala-i-Shadid. Yang kita ketahui hanyalah bahwa dia memiliki seorang murid kesayangan bernama Syekh Ibrahim. Gulshan-i-Raz diperkenalkan di Eropa oleh dua pelancong di tahun 1770. Selanjutnya, salinan-salinan puisinya ditemukan di beberapa perpustakaan Eropa. Pada tahun 1821 Dr. Tholuck, dari Berlin, menerbitkan nukilan-nukilannya, dan pada tahun 1825 sebuah terjemahan bahasa Jerman dari petikan puisi itu muncul dalam buku lain yang ditulisnya. Setelah itu sebuah terjemahan lirik dan teks Persia diterbitkan oleh Von Hammer Purgstall di Berlin dan Vienna. Gilshan-i-Raz diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan, dengan teks Persia dan nukilan dari edisi Hammer dan catatan-catatan Lajihi, oleh Mr. Whinfield pada tahun 1880.

Kamis, 01 Maret 2012

Suluk sbg jalan Penyucian Jiwa

Tasawuf menyebut kemajuan dalam kehidupan spiritual sebagai suluk dan sang pencari Allah sebagai salik atau “penempuh jalan spiritual”. Makna lateral suluk adalah menempuh jalan, yang merupakan suatu tindakan fisik dan bisa dipandang sebagai gerakan dalam dimensi ruang. Hanya saja dalam istilah teknis, yang dimaksud suluk adalah “perjalanan spiritual” dan bukan gerakan dalam dimensi ruang.

Suluk nafs, hawa- nafsu, disebut tazkiyah an-nafs atau “penyucian jiwa”. Ini berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan malakuti, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela dan hewaninya. Dengan kata lain, diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya, diubah menjadi an-nafs al-lawwamah( jiwa yang tercela ) dan akhirnya menjadi an-nafs al-muthma’innah atau “jiwa yang tenang”. Dengan demikian, suluk bukanlah gerakan dalam dimensi ruang, melainkan kemajuan dalam kehidupan spiritual, yakni gerak maju dan sifat-sifat tercela menuju sifat-sifat baik dan terpuji; gerak maju ini adalah nama lain bagi transmutasi atau perubahan normal manusia batiniah.

Membersihkan Jiwa

Allah SWT berfirman: "...dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya." (QS.Asy-Syams : 7-10).

Aspek tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), merupakan salah satu aspek yang harus mendapatkan perhatian dari seorang insan muslim yang mendambakan hadirnya ketentraman jiwa dalam dirinya, jiwa yang ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepadanya, jiwa yang tentram (annafsul muthma'innah) tersebut akan mengiringinya menghadap Allah SWT. Sehingga masuklah ia ke dalam hamba-hamba Allah yang diridhai dan Allah menganugerahkan kepadanya surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi.Islam sebagai satu din (agama) yang bersifat kamil dan mutakamil (integral dan komprehensif) memberikan perhatian yang bersifat yang besar terhadap permasalah tazkiyatun nafs ini sebagaimana termaktub dalam nash-nash yang terdapat dalam Al-Quran dan As Sunnah. Nash-nash tersebut akan membimbing pribadi-pribadi muslim yang cinta kepada Allah menuju kepada timbulnya ketentraman jiwa, yang akan menumbuhsuburkan iman, yang akan menghindarkan dirinya dari kehampaan jiwa, kegersangan iman dan keputusasaan akan rahmat Allah.

Hajar Aswad

Sahabat, telah kita pahami bahwa segala apa yang memiliki wujud lahiriyah di semesta raya ini, maka ia mempunyai dimensi batiniyah juga. Memang ada beberapa pekara yang hanya berdimensi batiniyah saja tanpa lahiriyah. Rasa, misalnya. Itulah makanya ia tidak pernah bisa didzahirkan, bisanya sebatas dirasakan. Contoh lain, pikiran. Seperti apa wujud dzahir pikiran? Entahlah. Tapi kita dapat meyakini bahwa itu ada, bukan?
Kembali ke Hajar Aswad. Pada adanya, batu hitam itu punya wujud lahiriyah, berarti ada dimensi batiniyahnya. Nah, bagaimanakah? Apa maknanya sampai2 Muhammad SAW ‘berkenan’ mencium sang batu? Kalau dikatakan bahwa Hajar Aswad semata2 hanya batu berwarna hitam tanpa ada apa2nya, saya tidak sependapat. Dzahirnya benarlah ia batu (terlepas meteorit atau bukan), namun pasti ada ‘muatan makna’ yang melekat di dalam keheningannya. Tidak mungkin tidak.
Dari Ibnu Abbas ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga, berwarna lebih putih dari susu lalu berubah menjadi hitam akibat dosa2 bani Adam.” (HR. Timirzi, An-Nasa`i, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).

Kamis, 22 Desember 2011

Maut adalah Keringanan

Anas Radhiallaahu `anhu meriwayatkan hadits Rasulullah Saw:
"Anak Adam tidak menemui sesuatu yang diciptakan Allah melebihi hebatnya maut, padahal maut itu merupakan peristiwa yang paling ringan dibandingkan dengan kejadian-kejadian sesudahnya." (HR. Ahmad)
Takut kepada kematian adalah naluri semua makhluk hidup, sifatnya sangat alamiah. Bayangan kematian merupakan bayangan yang paling menakutkan. Di dunia ini tidak ada yang paling menakutkan melebihi kematian. Seandainya tidak ada kematian, tidak ada sesuatupun yang ditakuti. Risiko tertinggi di dunia ini adalah mati. Tidak ada yang melebihinya lagi.
Seorang penguasa yang paling berkuasa sekalipun akan merasa hina dan nista di depan kematian. Ia merasa kecil dan kerdil, karena kedatangannya tanpa permisi apalagi meminta izinnya. Jika Allah telah menetapkan ajalnya, malaikat mautpun siap menjemputnya, tanpa ada kompromi. Kekuasaan, kekayaan, prajurit, teman, kerabat, dan segala yang ada di dunia ini, tak ada yang bisa mencegah kematian.

Berkata "Cukup"

Sahabat...
Ketika kita bicarah ttg materi,
Apakah yang menjadi ukuran untuk berkata "cukup"?

Cukup,bukanlah katah yang mewakilih ke-pasrah-an akan hasil yg diberikan Allah kepada kitah.
Cukup,bukanlah katah yang menunjukkan bahwa pribadih tersebut adalah pribadih kalah.
Cukup,bukanlah katah yang berartih malas.

Kamis, 22 September 2011

Tasawuf dari beberapa Sudut

Taswuf sumbernya ada tiga ; pertama tasawuf indal akhlaq wal adab, yang kedua tasawuf indal Fuqaha ; tasawuf menurut fuqaha, dan ketiga tasawuf inda ahlil Ma’rifat. Ini yang perlu diketahui.

Tasawuf inda akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. Terutama makan; pake tangan kanan, di ajari sedini mungkin, masuk kamar mandi kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.

Yang kedua tasawuf indal fuqaha : bagimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?! 

Selasa, 16 Agustus 2011

Mengenali Diri


Bila kau mengenal dirimu

Kau akan mengenal Tuhanmu

Orang yang mengenal Tuhan

Bicara tidak sembarangan
Dalam mencari Tuhan
 
Ada yang menempuh jalan panjang

Dan penuh kesukaran

Ada yang tiada berjalan
 
Dan penuh kemudahan
 

Sabtu, 16 Juli 2011

Betapa Suci dan Mulia diriKu

Disebutkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia mengatakan: “Pada suatu hari aku pernah keluar bersama Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu samapi kami memasuki sebuah tembok sebuah bangunan. Maka tatkala antara aku dengan beliau terpisahkan oleh tembok, sedangkan beliau di dalam tembok bangunan, di saat itulah aku mendengar beliau mengatakan: “Umar bin Khoththob adalah amirul mukminin. Bakh, bkah (aku tak mau mengatakannya, sebab ini kesombongan, ini ujub, ini adalah kesenangan yang tidak benar). Demi Alloh, wahai Ibnu Khoththob, kamu mau bertaqwa kepada Alloh atau Dia benar-benar akan mengadzabmu”. (Muhasabatun Nafs 1/15)

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci [An Najm [53;32]]

Dengan perkataan tiap hari.
Dengan perbuatan tiap hari.
Apakah masih layak kita berkata dalam hati "Aku manusia yang mulia,bersih dan bebas dosa" ?

salam ukhuwah

Usia Senja atau Menanti Pulang

Lanjut usia merupakan episode terakhir dari kehidupan dunia seseorang yang apabila diibaratkan seperti putaran hari maka ia menggambarkan saat-saat menjelang matahari terbenam, dimana sebentar lagi, entah sesaat atau dua saat lagi kita pun akan meninggalkan dunia menuju akhirat yang belum kita ketahui gelap terangnya, tidak seperti matahari yang meninggalkan siang yang sudah jelas menuju waktu malam yang gelap.
Setelah sekian puluh tahun menjalani kehidupan dunia yang merupakan perniagaan antara untung dan rugi, usia senja kita saat ini merupakan saat dimana tidak ada lagi hal yang lebih penting bagi kita selain bekal amalan yang cukup untuk menggapai kerohmatan Robbul ‘alamin azza wajalla.

Rabu, 11 Mei 2011

Al Kahfi 028 [018;028] dkk

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Beberapa ciri orang yang melampaui batas adalah [berdasarkan Al Kahfi 028 atau 018;028] ;
1.orang yang mengharapkan perhiasan kehidupan dunia
2.orang yang lalai dari berdzikir
3.orang yang menuruti hawa nafsunya