Senin, 29 November 2010

Pemerintahan Islam.Mimpi tapi mungkin.

Atas izin Allah yang maha Pemurah dan Menyantuni
Salam dan sholawat semoga terlimpah utk Rasulullah saw dan keluarganya serta umat Islam seluruhnya

 Alhamdulillah..........


Al Khilafah adalah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut Islam,meski demikian -menurut beberapa ulama- sistem khilafah bukanlah bentuk baku yang harus diterapkan.Akan tetapi,menurut penulis,belum ada sistem negara/pemerintahan yang benar-benar membiarkan pemeluk agama menjalankan kebebasan beragama dalam arti sebenarnya.Yaitu menjalankan hukum-hukum agam dalam tiap sendi kehidupan.Indonesia,mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi sangat disayangkan banyak dari umat Islam yang takut bahkan  ngeri apabila diterapkan hukum Islam bagi dirinya.Kenapa demikian?Nafsu manusia tidak dapat merajai hati manusia lagi.Salah satu contoh adalah hukuman potong tangan bagi koruptor,adakah koruptor yang beragama Islam bersedia dipotong tangannya?Pembelaan paling besar adalah dari keluarga koruptor dengan dalih tidak manusiawi.Lantas mana yang lebih manusiawi antara korupsi (baik berjamaah maupun sendirian) dibandingkan dengan dipotong tangan sebagai sanksi?

Al Khilafah dapat diperjuangkan dengan perjuangan umat Islam yang masih memiliki keinginan menempatkan hukum Allah diatas hukum buatan manusia.Perjuangan dapat dilakukan dengan cara menegakkan syariat (untuk pribadi) dimana pun pribadi muslim berada,kemudian meluas dengan dilakukan secara berjamaah menurut keadaan dan tempat masing-masing jamaah berada.Dan diperluas lagi menurut bangsa/negara dengan memperhatikan batas-batas wilayah dan terakhir adalah jamaah internasional (lebih ekstrim lagi seluruh negara Islam/khilafah memisahkan dari PBB untuk membentuk Sistem Khalifah Internasional = = =  ini bukan mimpi tapi nilai yang harus diperjuangkan melalui mematuhi aturan dan larangan Allah beserta meneladani Rasulullah saw dan diawali dari tiap pribadi muslim).Perlu diingat,Khilafah bukan bentuk baku tetapi jika dalam perkembangan manusia di masa mendatang ditemukan bentuk lain yang lebih baik dari Khilafah maka hal tersebut dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan aturan2/hukum Islam.

Kelemahan dan kebodohan yang terjadi hampir 100 tahun terakhir adalah karena tipisnya ukhuwah islamiyyah diantara umat Islam karena penjajahan “predator/kanibalisme”.predator tersebut akhirnya memisahkan bangsa-bangsa dengan membuat batas-batas wilayah jajahan.Contoh,Indonesia-Brunei adalah nama yang tidak ada pada tahun 1800.Mesir-Arab Saudi adalah istilah yang baru dikenal pada awal abad 20.Majapahit telah musnah dan digantikan negara Islam seperti negara Demak,Samudra Pasai dan lain-lain jadi bukankah masih mungkin menghilangkan perbedaan antara Indonesia-Malaysia-Brunei di masa mendatang?Melenyapkan Kuwait,Libya,Arab Saudi untuk melebur menjadi satu sistem khalifah dengan pola pemerintahan seperti masa generasi pertama Islam mungkin atau mimpi?

Syarat utama mencapai tujuan tersebut adalah menegakkan tauhid pada hati tiap muslim lalu memerdekakan diri dari predator!!! Yah,berdoalah agar Indonesia di masa depan dipimpin oleh orang yang takut Allah.

Bersambung,,,,,,,,

Selasa, 09 November 2010

Cecak:Membunuh dan Meniup

Ada tema diskusi yang menarik diantara kami yaitu :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ حَدَّثَنَا نَافِعٌ قَالَ حَدَّثَتْنِي سَائِبَةُ مَوْلَاةٌ لِلْفَاكِهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَتْ
دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ فِي بَيْتِهَا رُمْحًا مَوْضُوعًا قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا تَصْنَعُونَ بِهَذَا الرُّمْحِ قَالَتْ هَذَا لِهَذِهِ الْأَوْزَاغِ نَقْتُلُهُنَّ بِهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا تُطْفِئُ النَّارَ عَنْهُ غَيْرَ الْوَزَغِ كَانَ يَنْفُخُ عَلَيْهِ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِهِ

Telah menceritkan kepada kami [Affan], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Jarir], telah menceritakan kepada kami [Nafi'], dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Saibah, pembantunya Fakih bin Al-Mughirah], dia berkata; "Saya menemui [Aisyah] dan saya melihat ada tombak yang tergeletak, saya berkata; 'Wahai Ummul Mukminin! apa yang kamu perbuat dengan tombak ini?" Aisyah berkata: "Tombak ini adalah untuk membunuh tokek (cecak) karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. pernah bercerita kepada kami bahwa Ibrahim AS. ketika dilempar ke dalam kobaran api tidak ada binatang di bumi melainkan mereka berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek (cecak). Dia meniup kobaran api untuk mencelakai Ibrohim AS. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. memerintahkan kami untuk membunuhnya." (Musnad Ahmad, hadits ke 23393 )

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا
Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dan ['Abdu bin Humaid] keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami ['Abdur Razzaq]; Telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari ['Amir bin Sa'd] dari [Bapaknya] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar membunuh Al Wazagh (cecak) dan beliau memberi nama Fuwaisiq (si fasik kecil)." (shohih Muslim, kitab; Salam, bab; Sunnah membunuh Cecak, hadits ke 4154)

Hadits di atas adalah hadits Sohih semua,renungan :
1. Nabi memerintahkan untuk membunuh cecak
2. Kesalahan cecak dahulu yg meniup api ketika Nabi Ibrohim dibakar.
3. Cecak diberi gelar Fuwaisiq (si fasik kecil) padahal hewan tidak diberi syari’at?

Wa bismillah.........
Ada batasan sebelum kajian hadits yaitu ;
  1. tidak membahas zat yang terkandung dalam fisik cecak
  2. berlaku azas pengecualian bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhluk dengan sia-sia
  3. tidak membahas masa berlakunya hadits diatas karena sampai saat ini tidak ada nash yang membatalkan kedua hadits tersebut seperti hadits larangan berziarah kubur.

Setiap jenis hewan pasti memiliki naluri yang pada naluri tersebut didasarkan pada keinginan mempertahankan hidup.Sehingga dapat dipahami bahwa hewan pun diberi pilihan oleh Allah.Misal,anjing yang taat paa majikan terkadang ‘mbalelo’/menunjukkan sifat bandel,merpati seringkali tidak pulang ke sarangnya bahkan semut (pada masa nabi Sulaiman as) berkata,”..masuklah kalian ke dalam sarang.Sesungguhnya Sulaiman dan tentaranya....”
Semut adalah jenis hewan yang pasti memiliki volume otak lebih kecil dari cecak.Contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hewan memiliki pilihan tetapi mereka tidak dikenai syariat sebagaimana manusia karena hewan tidak memiliki akal dan nafsu seperti yang dimiliki manusia.
Lantas mengapa Rasulullah saw memerintahkan membunuh cecak?Dan mengapa pada saat nabi Ibrahim dibakar justru cecak meniup api yang membakar nabi Ibrahim?Ada beberapa kemungkinan untuk itu,yaitu ;
  1. Kotoran yang keluar dari cecak adalah najis.Bisa dibayangkan jika pada saat kita melakukan sholat tiba-tiba ada kotoran cecak jatuh menimpa pakaian kita.Selain itu bangkai cecak terkadang menimbulkan bau yang tidak sedap,sekali lagi,bisa dibayangkan jika ada cecak mati pada makanan yang kita simpan.Perintah membunuh cecak lebih dipahami sebagai perintah yang wajibnya tidak seperti wajib membunuh dalam peperangan atau membunuh jika nyawa terancam.Tetapi dipahami saja sebagai reaksi wajar jika ada nyamuk yang mengigit kulit.Seketika dan plak.....Bukankah perintah membunuh ular pun ada tahap-tahap yang harus dilewati?Apabila perintah membunuh cecak dipahami seperti pemahaman perang dan sholat jamaah maka harus ada sejarah atau riwayat bahwa sahabat dan tabi’in pernah berburu dan membunuh cecak secara massal (seperti “fogging” nyamuk,berburu tikus di sawah dan lain-lain).Dan pertempuran melawan cecak akan terus berlangsung hingga akhir jaman.Bukankah itu upaya yang sia-sia? 
  2.  Cecak meniup untuk berusaha mendinginkan api.Kalimat pada hadits ,”.... kecuali tokek (cecak). Dia meniup kobaran api untuk mencelakai Ibrohim AS...”kami pahami demikian bahwa ketika semua binatang berusaha memadamkan api,Rasulullah tidak menjelaskan cara hewan-hewan tersebut.Hanya “..kecuali cecak.Dia meniup kobaran api untuk mencelakai Ibrahim as (dia meniup api saja,api yang berkobar untuk mencelakai Ibrahim as-dan tiupan cecak adalah berusaha mendinginkan karena dia merasa terancam terbakar-jadi cecak mementingkan keselamatan dirinya daripada keselamatan Ibrahim as).Dan boleh jadi cecak tidak mengetahui bahwa di dalam api itu ada Ibrahim as karena jika dia tahu –kami yakin- cecak akan bersikap seperti anjing pada Ashabul Kahfi atau hud-hud pada nabi Sulaiman as).Berarti Rasulullah salah menilai cecak?Tidak.Bukankah keselamatan nabi/rasul lebih utama daripada tiap individu siapapun dia?Itulah alasan yang kami pahami tentang dasar penilaian Rasulullah saw terhadap cecak (pada hadits pertama).
  3. Gelar Al Fuwaisiq yang diberikan Rasulullah saw pada cecak dapatlah kami pahami sebagai gelar yang berdasarkan kebiasaan cecak memakan mangsa dalam keadaan mangsanya hidup.Fasik apabila disandarkan pengertian kepada Al Quran memiliki makna merusak.Membunuh adalah bagian dari merusak dan kebiasaan cecak memakan mangsa dalam keadaan hidup berarti cecak membunuh makhluk hidup.Apakah buaya singa dapat dikatakan fasik?Bisa karena dia membunuh.Tetapi pembunuhan yang dilakukan hewan terhadap hewan lain adalah bagian sunatullah untuk kelangsungan hidup para hewan di dunia hewan.Gelar tersebut seperti gelar yang disematkan pada Abu Hurairah (Bapaknya Kucing),gelar pada Ummi ‘Aisyah (Delima Merah atau apa saya tidak ingat).Apakah Abu Hurairah adalah bapak dari kucing?Tentu tidak.
       
Demikian sekelumit uraian kami mengkaji hadits membunuh cecak.
Didedikasikan kepada saudaraku bernama samaran Xarel X atas semua diskusi.,Semoga Allah menyertai anda.

Sabtu, 06 November 2010

N U N

Bismillahirrohamnirrohiim
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa muslimin wal muslimat

Nun
Demi kalam dan apa yang mereka tuliskan (Al Qolam1-2)

Menulis adalah rangkaian proses pemindahan ide dan tutur kata dalam bentuk abjad.Dalam konteks ini arti menulis akan dibawa ke pengertian mengeluarkan bunyi (mengingat menulis adalah tahap akhir dari berbahasa).

“…apa yang mereka tuliskan…”
yang dimaksudkan Mereka adalah semua makhluk yang berada di luar konteks pembicara (Allah dan pembaca ayat).Tulisan tidak terbatas pada firman Allah yang ditulis pada berbagai kitab suci baik Weda,Zabur,Taurat,Injil dan Al Quran (termasuk terjemahan dalam berbagai bahasa manusia).
Soto Ayam Lamongan,Nasi Pecel Madiun,Coto Makassar,Warung Tegal,Pempek Palembang Pak Joni,Intel Inside,Nokia,Bir Bintang dan semua bahasa yang dimengerti manusia yang tertulis pada papan iklan,media cetak,media elektronik,iklan di internet adalah bagian dari penggalan ayat tersebut.
Termasuk pula tulisan pertama yang dikenal nabi Adam,tulisan pertama dan seluruh tulisan yang dikenal jin,tulisan pertama dan seluruh tulisan yang dikenal malaikat adalah bagian dari penggalan ayat tersebut.
Diriwayatkan bahwa seandainya ilmu Allah ditulis dengan menggunakan tinta sebanyak 7 lautan dan ditambah sejumlah itu akan segera mengering dan perlu tambahan lagi sebanyak itu  sebelum ilmu Allah habis ditulis.
Bisa dibayangkan jika ucapan/bunyi yang dikeluarkan pertama kali ditulis hingga bunyi yang timbul pada saat Izrail mati akan membutuhkan jutaan galon tinta untuk menuliskannya.

Ide yang ditulis oleh para pencetus paham atheis,monotheis,polytheis,liberalis,imperialis dan aliran-aliran pemikiran lainnya termasuk rumus matematika,rumus fisika dan rumus-rumus ilmu pengetahuan lainnya adalah termasuk bagian dari “…demi kalam…”
Kami tertarik untuk sedikit membahas paham atheis,yang boleh diakui atau tidak,merupakan salah satu bukti kreatifitas Tuhan dalam memberikan pilihan pada manusia.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk berketuhanan karena manusia dibekali naluri (berkeyakinan ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya yang mengatur alam) dan akal untuk dapat mengenali tuhan.Namun sebagai bagian dari rangkaian ujian manusia juga dibekali untuk menolak gagasan akan keberadaan tuhan.Ide untuk menerima dan menolak tuhan,pada satu titik tertentu,akan memaksa manusia untuk memilih antara menerima atau menolak tuhan.Pada mereka yang memilih menolak keberadaan tuhan,kami mendapati sesuatu yang mengherankan yaitu mereka ternyata menjadikan ide/gagasan sebagai tuhan.
Dan yang menakjubkan adalah Allah selaku tuhan tetap memberikan mereka inspirasi dan kekuasaan untuk menuangkan ide,mengajak orang lain serta meyakinkan segolongan manusia untuk menerima gagasan menolak tuhan.Perbuatan Allah dalam hal ini benar-benar sangat menakjubkan,menunjukkan sifat kasihNya,keadilanNya dalam memberi ide kepada setiap makhluk yang berusaha mencari.Kami tidak menyatakan mereka disesatkan tetapi ide yang mereka yakini itulah yang menjadi sebab sesat.
Semua tulisan tentang ide,perkataan dan perbuatan kaum atheis adalah juga bagian dari “…demi kalam…”

Lantas jika ada pertanyaan,”..mengapa Allah membiarkan orang-orang yang menolaknya tetap bergerak leluasa?” YA.Karena Allah memberikan kebebasan memilih dan Allah akan menghargai setiap pilihan manusia dalam keyakinan.Entah berupa siksa atau nikmat.
Umat beragama memiliki kitab suci,begitu juga umat atheis.Ide menolak tuhan adalah tuhan bagi mereka,nabi mereka adalah pencetus gagasan,kitab sucinya adalah buku-buku yang ditulis para “nabi “ mereka.Dan keseluruhan kitab suci (baik umat beragama dan tidak beragama) adalah bagian dari “…demi kalam…”
Satu kesimpulan yang kami dapatkan dari penjelasan diatas adalah semua perihal yang menyangkut ilmu dan pengetahuan (yang berguna dan tidak berguna) baik yang dituliskan maupun yang diucapkan,seluruh bunyi (dari bunyi pertama kali ada,bunyi jutaan butir air hujan hingga bunyi terakhir yang timbul)  secara keseluruhan dirangkum oleh Allah dalam satu huruf,NUN.


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Materi tambahan ;
metro of arsy